
Penangkar gupi di Kota Medan, Sumatera Utara, Jimmy Wijaya, meraup omzet tambahan Rp24 juta saban bulan dari perniagaan gupi. Menurut Nico Wakanda— nama sohor Jimmy Wijaya—omzet itu dari perniagaan 3—4 pasang gupi jenis blue grass per pekan. Nico memang spesialis menjual ikan bermutu istimewa. Artinya penjualan ikan terutama untuk kelas kontes atau siap kontes. Harga ikan tangkaran Nico Rp1,2 juta—Rp2,2 juta per pasang.
Menurut penangkar gupi sejak 2017 itu tidak perlu tempat luas menangkarkan gupi. Total 40 akurium masing-masing berukuran 30 cm x 15 cm x 15 cm tersusun rapi pada 2 rak besi. Menurut Nico tempat untuk penangkaran gupi tidak lebih dari 6 m2. Ia juga tidak menyediakan ruangan khusus untuk meletakkan akuarium. “Rata-rata 2 m x 1 m di ruang makan, dan 2 m x 1 m di garasi,” kata Nico.
Berlangganan Trubus Member untuk Baca Lengkap Seluruh Konten
Kelas kontes
Nico menangkarkan hanya satu jenis yang paling diminatinya yakni blue grass. Ia fokus menangkarkan dan menghasilkan ikan sesuai kriteria kontes. Ia memilih pasar ikan kontes lantaran biaya pembesaran antara kelas kontes dan kelas bawah hampir sama. Biaya produksi per pasang hingga siap jual pada umur 3 bulan Rp15.000. Harga ikan kelas bawah Rp20.000—Rp50.000 per pasang.
Adapun harga ikan kelas kontes minimal Rp1 juta per pasang. “Tentu lebih memilih margin yang tinggi,” katanya. Selain Nico, penangkar lain Dito Swastika juga memilih pangsa pasar kelas kontes. Penangkar gupi sejak 2018 itu menangkarkan hanya satu jenis yakni varian yellow cobra. Alasannya lebih efisien tempat dan margin tinggi. Artinya tidak memerlukan volume penjualan banyak dan bernilai jual tinggi.
Menurut penangkar di Yogyakarta itu tantangannya menuntut mutu ikan istimewa. Harga sepasang gupi yellow cobra tangkaran Dito Rp2 juta—Rp4 juta. Saban bulan Dito rata-rata melepas 10 pasang ikan siap kontes. Menurut Dito pasar ikan kontes tentu untuk kalangan pehobi yang memahami ikan bermutu bagus, tujuannya pun kontes atau dijadikan induk sehigga memiliki segmen khusus.

Jika reputasi penangkar dan mutu ikan bagus, ikan akan selalu terserap habis. Reputasi penangkar akan naik seiring ikan tangkarannnya menang kontes. Dito menuturkan, andaikan meningkatkan produksi 2 atau 3 kali pun pasti ikan akan terserap habis. Menurut penangkar gupi diKabupaten Bantul, Yogyakarta, Muhammad Gema Ramadhan, pangsa pasar ikan gupi terbagi menjadi 3 kelas, yakni kelas A, B, dan C.
Gema Ramadhan mengatakan, sekali melahirkan, seekor induk gupi menghasilkan 40—150 burayak. Reputasi penangkar amat disorot. Jika mutu ikan atau mutu anakan kurang baik, pehobi enggan membeli ulang. Adapun tantangan pasar kelas B peminatnya relatif sedikit dibandingkan dengan kelas A dan C.”Kelas B kurang optimal jika dijadikan induk, anakannya pun kebanyakan menghasilkan kelas B dan C, sementara permintaan pehobi menuntut ikan istimewa,” katanya.
Adapun tantangan membudidayakan ikan kelas C perlu tempat luas, misalnya kolam. Harap mafhum permintaan ikan kelas C menghendaki jumlah banyak. “Kelas C pasar grosir, sehingga permintaan banyak dan pasokan harus rutin,” katanya. Ikan kelas C terutama untuk memasok toko ikan hias. Ikan itu sebagai unsur pelengkap untuk akuaskap. “Harga kelas C dihitung per ekor, syaratnya ikan sehat dan tidak rusak,” katanya.

Permintaan naik 500%
Gema fokus memasok pasar kelas A dan B. Ia mampu memasarkan 100—200 pasang gupi sehingga beromzet Rp10 juta—Rp 20 juta per bulan. Jenisnya hanya empat yakni albino full red, albino lace (purple, blue), dragon, dan blue moscow. Jenis dragon dan blue moscow cocok bagi pehobi pemula. Ikan itu bandel, sintasan atau survival rate tinggi, dan mutu ikan dominan stabil.
Keruan saja banyak hambatan menghasilkan gupi berkualitas (baca boks: Masalah Besar Ikan Kecil halaman 12). Namun, jika penangkar mampu mengatasi beragam aral berpeluang menangguk laba besar. Lihat saja Gema Ramadhan yang penjualannya melonjak 300% selama pandemi korona karena banyak orang bekerja dari rumah. Menurut Ketua Indonesian Guppy Popularized Association (IGPA), Sahlan Rosyadi, saat pandemi permintaan ikan naik 200% di Kalimantan Barat dan 500% di Jawa.
Penyebabnya banyak pehobi baru yang mulai tertarik memelihara ikan hias selama berkegiatan di rumah. Gupi jenis ikan mini, tidak memerlukan tempat luas memeliharanya. Memelihara gupi bisa pula menjadi sarana pereda stres. Penangkar gupi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahmad Fauzi Irvanto, juga mengatakan hal serupa. Sebelum pandemi atau pada 2019 rata-rata penjualan 20 pasang per bulan.
Pada pertengahan 2020 penjualan meningkat 2—3 kali lipat. Fauzi menggarap pangsa pasar menengah di kisaran harga jual Rp100.000—Rp200.000 dan kelas siap kontes dan kontes Rp750.000—Rp1,5 juta per pasang. Pada awal 2021 Fauzi merasakan tren kembali seperti saat sebelum pandemi. Penjualan menurun dibandingkan dengan saat pandemi. Namun, permintaan lebih konstan dan rutin terutama kelas kontes. (Muhamad Fajar Ramadhan, Peliput: Sinta Herian Pawestri)
