Coba tanyakan kepada petani cabai mana pun soal trichoderma. Sebagian besar sudah pernah dengar namanya. Namun berapa banyak yang benar-benar merasakan hasilnya? Di uji lapang Fakultas Pertanian IPB di enam lokasi di seluruh Indonesia, aplikasi mikrob intensif berbasis trichoderma terbukti menekan penyakit busuk batang hingga 50%, mengendalikan serangan virus 30—50%, meningkatkan produktivitas 27%, sekaligus memangkas biaya produksi 15%. Bukan angka di atas kertas. Itu hasil nyata di kebun petani sungguhan.
Di Banyuwangi, petani cabai yang sebelumnya hanya bisa panen sekali kini bisa memanen hingga empat kali dari tanaman yang sama, dengan umur produktif yang bertahan hampir setahun penuh. Makhluk kecil itu memang berperan besar dalam dunia pertanian. Tekanan untuk beralih ke solusi hayati makin kuat. Indonesia berada di posisi ketiga dunia dalam penggunaan pestisida kimia setelah Brasil dan Amerika Serikat. Sementara pasar biopestisida global justru tumbuh dua digit setiap tahun. Hal itu didorong oleh konsumen yang semakin menolak residu kimia pada produk pertanian.
Trichoderma bukan barang baru. Ia hanya belum digunakan semaksimal yang seharusnya. Inovasi seperti Propagul membuktikan bahwa teknologi ini kini bisa menjangkau petani biasa. Bukan hanya perkebunan besar. Oleh karena itu, Trubus membuktikan bahwa saatnya itu sudah tiba. Sahabat Trubus dapat mengetahui lebih detail tentang bukti nyata trichoderma di lahan pada rubrik Topik.
Bagi pencinta durian lokal di tanah air, jangan lewatkan rubrik Buah. Ada liputan tentang kontes durian lokal di Banten. Kualitas dan rasanya tidak kalah dengan durian introduksi sekalipun. Perhetalan FLOII 2026 berlangsung meriah. Beragam inovasi dan acara membuat ajang internasional itu makin semarak. Bagi yang mau membuat kebun melon hidroponik dengan IoT, telusuri pengalaman Bayu Aji Pramudyatama membangun Bapak2Melon Farm di rubrik Muda+.
Sahabat Trubus, selamat membaca!






