Ada yang janggal dari kepiting soka Indonesia. Di satu sisi, ekspor rajungan dan kepiting secara keseluruhan sudah menembus US$513,35 juta pada 2024. Nilai itu tumbuh 14,7% dibandingkan dengan 2023 dan menjadi komoditas ekspor perikanan terbesar keempat nasional. Rajungan dan kepiting posisi keempat setelah udang, tuna-cakalang-tongkol, dan cumi-sotonggurita.
Di sisi lain, kepiting soka justru masih ketinggalan jauh dari potensinya. Permintaan dari Korea Selatan, Vietnam, dan Hong Kong berdatangan. Namun pembudidaya terpaksa menolak karena kapasitas produksi belum mencukupi. Salah satu penelitian mengonfirmasi tingkat penawaran kepiting soka masih jauh di bawah permintaan, dengan gap yang belum terjembatani. Ironisnya, Indonesia adalah produsen kepiting bakau terbesar ketiga di dunia dengan hamparan mangrove terluas di Asia Tenggara sebagai sumber bibit alaminya. Yang berubah sekarang adalah ekosistemnya mulai bergerak.
Dari Aceh Tamiang hingga Brebes, dari Samarinda hingga Surabaya, para pembudidaya mulai mengadopsi sistem vertical crab house dengan siklus panen hanya 15—25 hari. Harga jual Rp160.000—Rp180.000 per kilogram dengan biaya produksi Rp60.000—Rp80.000 per kilogram menghasilkan margin yang susah diabaikan. KKP pun kini mendorong pengembangan budidaya kepiting berkelanjutan sebagai respons atas lonjakan permintaan global. Semua tanda itu menunjuk ke satu arah — kepiting soka sudah siap naik kelas. Tren budi daya dan perkembangan pasar kepiting soka menjadi Topik kami. Sahabat Trubus juga bisa menemukan inovasi terkini terkait budi daya kepiting soka. Artikel lainnya yang tak kalah menarik yakni sepak terjang Hijau Surya yang menghasilkan bibit pisang hasil kultur jaringan yang berkualitas prima. Ada lagi cerita dari kelompok tani yang sukses mengekspor kopi wanoja ke mancanegara. Tentunya setelah berhasil mengatasi aral yang datang.
Sahabat Trubus, selamat membaca!






